• 19 - 22 March 2020
  • Jakarta Convention Center

Filipina Hajar Produk Keramik Indonesia dengan Tarif Tinggi

0

Jakarta, CNBC Indonesia - Filipina mengenakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP/safeguard) terhadap impor keramik dari beberapa negara, salah satunya dari Indonesia. Safeguard adalah instrumen tarif impor sebagai hambatan perdagangan untuk mengendalikan banjirnya produk impor oleh suatu negara.

Tarif safeguard yang dikenakan sejak awal bulan ini pun tak tanggung-tanggung, mencapai 30% dari yang seharusnya 0% antar negara ASEAN.

"Ada 5-6 perusahaan yang ekspor ke Filipina terkena dampaknya. Jumlahnya sedang kita data karena safeguard ini berlaku saat kita sedang libur. Jadi kita belum dapat data akurat," ujar Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto kepada CNBC Indonesia.

Edy menjelaskan, Filipina merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama produk keramik Indonesia dan negara itu menerapkan bea safeguard untuk melindungi industri keramik mereka. Ia mengklaim Filipina hanya memiliki satu perusahaan keramik dan produksinya tak mampu memenuhi kebutuhan nasionalnya.

"Sebenarnya mereka tidak cukup sehingga tidak ada alasan mengenakan safeguard. Sekarang mereka kenakan sekitar 30 peso/kg. Satu kardus keramik kurang lebih 15 kg, yang agak besar bisa 20 kg," katanya.

Menurut Edy, pengenaan bea safeguard di Filipina yang mencapai 30% ini jauh lebih tinggi dibandingkan BMTP yang dikenakan Indonesia terhadap produk keramik asal China dan India yang berkisar hanya 23%.

"Mereka kenakan tarif secara dini sementara penyelidikan masih berlangsung. Makanya kita bekerja sama dengan Kemendag sedang dalam proses menyampaikan bantahan, jangan sampai Indonesia masuk ke daftar itu," katanya.

Selama ini, Filipina salah satu pasar tujuan ekspor keramik Indonesia dari produksi keramik nasional 2018 sebesar 370 juta hingga 380 juta m2, sekitar 65,51% dari total kapasitas terpasang.

Pangsa ekspor keramik Indonesia baru mencapai 10% dari total produksi dengan negara tujuan ekspor antara lain selain Filipina, antara lain Myanmar, Laos, dan Malaysia. Gempuran keramik impor asal China, ditambah harga gas yang terus melambung membuat industri keramik Indonesia terjepit. Adanya hambatan ekspor di Filipina, akan menambah berat industri keramik.

NEWS - Pablo I. Pareira, CNBC Indonesia 11 June 2019 12:05